Senin, 10 September 2012

Cerpen "LAMPU KRISTAL"


LAMPU KRISTAL

Karya : Ratna Indraswari 

Martini melihat dengan nanap serpihan lampu kristal itu. Napasnya memburu. Butir-butir keringat berhamburan pada wajah dan matanya. Bibirnya gemetar. Sementara itu, lagu gembira untuk senam pagi berkumandang.  Martini duduk seperti tersudut. Riwayat lampu kristal itu melompat. 

Konon lampu itu adalah hadiah dari susuhunan buat keluarga besar suaminya.  Martini,menghapus matanya yang basah, kemudian berdiri,canggung dan tidak yakin mengapa hal itu mesti,terjadi. la bisa membayangkan kemarahan suamimbeserta anak anaknya.  Dulu, perkawinan di bawah lampu kristal ini menjadikan Martini gamang. Sesungguhnya dia mencintai suami dan anak-anaknya. Di sini dia merasa terikat. 

Namun, dia tidak mau bertukar tempat dan tetap mengeluh dalam perkawinannya.  Kemudian kakinya menyentuh serpihan kristal. Di tengah keluarga besar yang memiliki lampu kristal ini Martini berdiri canggung. Meskipun demikian, suaminya selalu berkata bahwa Martini yang canggung ini adalah seorang perempuan yang sulit disejajarkan dengan perempuan lain. 

Dia merasa dipuji kala itu. Keberaniannya mencengangkan seluruh kerabatnya.  Jalinan tahun sudah dijalani, tetapi kecanggungan ini tidak kunjung berhenti, bahkan selalu berkelebat dalam angannya. Perempuan yang berdiri canggung itu adalah bekas karyawati sebuah toko.  

Tanpa terasa kakinya tersentuh lagi oleh serpihan lampu kristal. Martini melompat dan segera mengambil baju renangnya. Di kolam renang, Martini betah tinggal berjamjam sekalipun anak-anaknya sering bilang bahwa gaya renang dia tidak ubahnya seperti perenang sungai. la menyelam dalam-dalam. la gembira bahwa lampu kristallah yang jadi serpihan, bukan dirinya.  Seorang lelaki tengah memperhatikannya dengan saksama sehingga ia menepi. Dalam pikirannya terlontar harapan, seharusnya Suseno berada di sini. Martini bergegas pulang. Dari jauh sudah tampak rumahnya. Pasti suami dan anak-anaknya dengan sedih akan membicarakan lampu kristal yang telah pecah itu. 

Padahal biasanya pada jam-jam begini Suseno selalu bercerita kepada anak-anak tentang kejayaan keluarga besar mereka. Lantas seusai bercerita, dengan bangga suami dan anakanaknya menengadahkan kepala untuk memandangi lampu kristal itu.  Martini selalu tersodok. Ingin sekali dia bercerita lain, tentang dirinya, di mana dia dulu menjadi karyawati di sebuah toko karena himpitan ekonomi. Namun, keinginan ini selalu saja tenggelam, terbalut oleh kebesaran lampu kristal itu.  Semakin dekat Martini dengan rumahnya, semakin ia merasa tercekam. Masa kini dan kemarin berhamburan dan saling menyodok dirinya. Matanya melebar. Sekarang semakin jelas bayangan suami dan anak-anaknya.  

Kini dia berada di tengah-tengah suami dan anak-anak yang amat dicintainya. Mereka memandanginya dengan mata terbelalak dan napas tertahan. Martini berdiri di sebuah sudut dan mulai berbicara dengan kalimat-kalimat yang sepertinya sudah dihafal dengan baik terlebih dahulu.  “Maaf, saya sangat menyesal. Lampu itu terjatuh sendiri ketika saya senam pagi….” Kalimatnya terpotong. Kemudian ia menghambur ke kamar. la menunggu suaminya masuk ke kamar.  “Saya menyesal,” kata Martini lagi, mencoba menekan perasaannya sampai waj’ahnya basah bergetar menahan gejolak. Sesaat keheningan melayang sangat tajam. Kemudian terdengar suara Suseno yang dingin penuh kepercayaan.  

“Peristiwa ini tidak usah diributkan, bukan?” Martini jadi kagok. Bayangan lampu kristal bergoyang. la merasa tercekam. “Maaf, saya tahu hal ini bukanlah sepele. Bukankah lampu itu lambang kebesaran keluarga besarmu?”  Suaminya tertawa ganjil. “Kamu jangan aneh, Tin. Buat saya, yang sudah lewat, sudah habis. Kebesaran itu ada pada kita sekarang.”  Kemudian suaminya melanjutkan membaca koran. Martini betul-betul tidak tahan dan akhirnya keluar dari kamar. l

a duduk di bawah bekas tempat lampu kristal.  Mendadak terlompat dari pikirian Martini tentang kesedihan yang diderita oleh kerabatnya, orang-orang yang menjadi sebagian dari dirinya, tempat dia terlibat di dalamnya. Di bawah tempat lampu kristal itu Martini jadi merasa aneh. Tidak ada lagi gairah, seolah ada sesuatu yang tercabut dari dalam dirinya. Padahal suami dan anak-anaknya bersikap biasa saja dan tampaknya mereka tidak memedulikan peristiwa pecahnya lampu kristal itu.  Malam semakin merayap. Martini tidak berani menoleh ke pecahan lampu kristal itu. Seandainya lampu kristal itu bisa utuh kembali, pasti dia akan bisa sangat menikmati kebersamaan dengan anakanaknya.  

Omong kosong kalau dia tidak melahap kebahagiaan di sini. Bukankah tanpa sadar waktu telah bergeser dan terhimpun menjadi jalinan tahun ke tahun?  Matanya basah. Entah mengapa dia tidak ingin tidur malam itu. Seharusnya tidak ada lagi yang mesti diubah dalam kehidupannya. Bukankah dia sudah melekat dan terikat erat di sini? Martini merasa ingin meremukkan seluruhnya. Dia terhenyak di kursi.  Suaminya menatapnya dengan aneh dan mulai berkata, “Percayalah, Tin, yang sudah biarlah berlalu.”  Martini jadi meledak. 

“Kamu sama sekali tidak jujur. Jangan berpurapura. Kesedihan itu sangat tampak oleh mata saya.” Kembali suaminya menjadi heran.  “Ma, saya punya gagasan baru yang cemerlang. Saya pernah melihat lampu kristal di pasar barang antik, kita bisa membelinya.”  Air mata Martini mengalir deras. “Tanpa lampu itu …, tanpa lampu itu hidup kita tidak berarti, kan?” “Ma!” Martini menghapus air matanya, sekarang dengan berani ia melihat pecahan lampu kristal itu. “Tapi saya kira, tanpa lampu kristal itu, hidup kita bisa jalan terus ….” Martini menyetop omongannya sendiri dan berdiri dengan canggung.  Suseno memeluk Martini. Sementara itu, di luar udara semakin dingin, malam kian larut.  

0 komentar:

Poskan Komentar